HIDAYAH

oleh Yusuf Mansur Network pada 04 Desember 2010 jam 21:41

Pindah agama bukanlah persoalan yang mudah karena banyak hal-hal baru yang harus ia pelajari Bagi kebanyakan perempuan non-Muslim yang memutuskan menjadi seorang muslim, persoalan yang paling rumit adalah bagaimana memberitahukan keislaman mereka pada keluarga dan orang-orang tercinta.

Tapi Sarah bersyukur, ia tidak mengalami kerumitan itu saat mengumumkan bahwa dirinya telah menjadi seorang muslimah pada keluarganya. “Saya merasa benar-benar mendapat berkah karena reaksi keluarga saya lebih baik dibandingkan reaksi keluarga lainnya dari cerita yang pernah saya dengar,” ungkapnya.

Sarah Thompson yang lahir dan dibesarkan di Noblesville, Indiana tumbuh di tengah keluarga yang mengklaim sebagai penganut Kristen. Namun Sarah selalu merasa ada sesuatu yang hilang dalam kehidupannya. Ia lalu mulai mempelajari dan memperdalam agama Islam.

“Saya seperti menemukan rumah bagi rohani saya,” ujarnya tentang Islam

Sarah akhirnya mengucapkan dua kalimat syahadat pada tahun 2008 setelah selama enam bulan mempelajari agama Islam. Ketika ia memberitahu ibunya bahwa ia kini seorang muslimah, sang ibu hanya berkomentar, “Oke, tak mengapa, apa yang bisa saya lakukan?” Ibu Sarah lalu berlalu dan kembali dengan membawakannya beberapa kerudung penutup kepala.

Tapi tidak semua orang bersikap seperti ibunya. Beberapa kerabat Sarah, bahkan ayah kandung dan ayah tirinya sulit menerima keputusan Sarah menjadi seorang muslim. Namun kebanyakan teman Sarah memberikan dukungan, meski mereka kadang berpikir bahwa dirinya sudah gila karena memilih menjadi penganut agama Islam. Apalagi selama ini Sarah dikenal sebagai seorang feminis yang fanatik.

“Saya selalu menjadi seorang feminis yang fanatik, maka ketika sahabat-sahabat saya berpikir bahwa saya sudah gila, itu artinya mereka serius mengatakan itu. Tapi pengetahuan mereka tentang Islam sangat terbatas. Mereka melihat seorang perempuan yang berjilbab dan mengenakan cadar adalah kaum perempian yang tertindas, begitulah citra yang mereka miliki,” tutur Sarah.

Lucunya, ujar Sarah, ketika menjadi seorang muslimah ia justru merasa lebih terbebaskan daripada ketika ia masih menjadi seorang Kristiani. “Saya tidak merasa tertindas, tapi saya tidak merasa terbebaskan ketika masih menganut agama Kristen. Setelah menjadi seorang muslim, saya merasa lebih bebas dan merdeka. Perlakuan terhadap kaum perempuan di beberapa negara cenderung karena pengaruh budaya dan tentu saja tidak islami. Dalam Al-Quran disebutkan bahwa perempuan punya hak, laki-laki juga punya hak. Kami punya hak yang sama,” papar Sarah.

Ia mengungkapkan, kedamaian dalam Islam yang membuatnya tertarik pada Islam. “Islam adalah agama komunitas tapi fokusnya adalah masing-masing individu dan hubungannya dengan Tuhan. Setiap hari Anda berdoa dan berusaha untuk melakukan kebaikan. Hanya Anda dan Tuhan yang tahu, apa yang telah Anda lakukan,” ujar Sarah. 

Singkat kata, seorang mu’min adalah manusia yang lebih memilih menderita di dunia asal senang di akhirat. Sedangkan seorang kafir atau munafik lebih memilih sukses di dunia walau harus berakibat masuk neraka di akhirat kelak. Seorang mu’min berprinsip: ”Lebih baik susah sekarang asal senang belakangan.” Sedangkan seorang kafir atau munafik berprinsip: ”Yang penting kita harus senang selagi bisa. Soal neraka, yah, belum tentu juga benar-benar ada.”

Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam mengingatkan kita ummat Islam agar jangan hendaknya tertipu oleh dunia. Hendaknya selalu sadar bahwa hakikat senang dan susah adalah di akhirat bukan di dunia. Senang di dunia tidak perlu membuat kita lupa. Susah di dunia tidak perlu membuat kita berputus asa.

Itulah sebabnya Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menyampaikan suatu hadits yang menggambarkan salah satu episode di hari pengadilan kelak nanti. Penggambaran yang menjelaskan betapa kesenangan surga sejenak cukup membuat orang yang paling menderita sewaktu di dunia lupa samasekali akan penderitaannya. Sedangkan kesengsaraan neraka walau sekejap cukup untuk menjadikan orang yang paling nikmat sewaktu hidup di dunia tidak ingat lagi akan semua kesenangannya.

حَدَّثَنَا عَمْرٌو النَّاقِدُ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ أَخْبَرَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ ثَابِتٍ الْبُنَانِيِّ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُؤْتَى بِأَنْعَمِ أَهْلِ الدُّنْيَا مِنْ أَهْلِ النَّارِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُصْبَغُ فِي النَّارِ صَبْغَةً ثُمَّ يُقَالُ يَا ابْنَ آدَمَ هَلْ رَأَيْتَ خَيْرًا قَطُّ هَلْ مَرَّ بِكَ نَعِيمٌ قَطُّ فَيَقُولُ لَا وَاللَّهِ يَا رَبِّ وَيُؤْتَى بِأَشَدِّ النَّاسِ بُؤْسًا فِي الدُّنْيَا مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيُصْبَغُ صَبْغَةً فِي الْجَنَّةِ فَيُقَالُ لَهُ يَا ابْنَ آدَمَ هَلْ رَأَيْتَ بُؤْسًا

قَطُّ هَلْ مَرَّ بِكَ شِدَّةٌ قَطُّ فَيَقُولُ لَا وَاللَّهِ يَا رَبِّ مَا مَرَّ بِي بُؤْسٌ قَطُّ وَلَا رَأَيْتُ شِدَّةً قَطُّ

“Pada hari kiamat didatangkan orang yang paling nikmat hidupnya sewaktu di dunia dari penghuni neraka. Lalu ia dicelupkan ke dalam neraka sejenak. Kemudian ia ditanya: ”Hai anak Adam, pernahkah kamu melihat suatu kebaikan, pernahkah kamu merasakan suatu kenikmatan?” Maka ia menjawab: ”Tidak, demi Allah, ya Rabb.” Dan didatangkan orang yang paling menderita sewaktu hidup di dunia dari penghuni surga. Lalu ia dicelupkan ke dalam surga sejenak. Kemudian ditanya: ”Hai anak Adam, pernahkah kamu melihat suatu kesulitan, pernahkah kamu merasakan suatu kesengsaraan?” Maka ia menjawab: ”Tidak, demi Allah, ya Rabb. Aku tidak pernah merasakan kesulitan apapun dan aku tidak pernah melihat kesengsaraan apapun.” (HR Muslim 5018)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: